Ku ingin menangis di derai hujan
hingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku sedang menangis saat ini. Di
luar sana masih hujan,aku masih terus berlari dan berlari.. apa pernah kamu tahu berlari dalam terpaan hujan itu sakit? Namun tak mengapa dibandingkan rasa sakit yang kini terukir
dalam di hatiku. Kata-kata sederhana yang kian menyakitkan itu keluar dari
bibir manis orang yang paling aku cintai.
“Kamu memang laki-laki yang tidak berguna Bayu, payah, tidak pernah
punya uang dan nggak bisa apa-apa!”
Gadis itu adalah Nur, seseorang
yang mengisi hatiku sudah hamir 3 tahun. Ntah setan apa yang merasuki
pikirannya sehingga kata-kata yang begitu kasar itu terucap buat aku, orang
yang ku pikir dicintai sbagaimana aku mencintainya. Di mataku Nur adalah gadis
bertubuh mungil yang sempura, aku cinta dia, sangat mencintainya. Hal apa pun
yang bisa membuatnya tersenyum akan aku usahakan bisa ku lakukan. Nur adalah
seorang gadis Jawa bertubuh mungil, bersenyum manis, ceria, memiliki cita-cita
yang tinggi. Selama masa kuliah ini aku selalu berbagi dengannya, apa pun yang
ku punya ku prioritaskan untuknya. Nur juga selalu setia menemaniku touring
motor ke tempat-tempat yang jauh. Yah,, touring motor adalah hobiku, sebelum
motor itu terpaksa dijual untuk biaya kuliah, membayar hutang orang tuaku.
Semua hobi itu harus ku tinggalkan sekarang, kebahagiaan yang ku dapat dengan
Nur ternyata hanya sebuah ilusi yang menutup mata ku tentang fakta yang
sebenarnya bahwa hidup itu keras. Yah,, hidup itu keras, aku harus melawan jika
tidak mau tergilas kehidupan, terus menerus menjadi orang tertindas. Aku
memiliki cita – cita yang dulu sering aku ungkapkan pada Nur.
“Suatu saat aku bakalan jadi sperti om Bob
Sadino dek..”
Semua orang pasti kenal dia,
pengusaha sukses pemula agroindustri Indonesia, berdasar pada pemikiran sederhana
mengenai Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian
penduduknya sebagai petani, om bob sadino mengembangkan pola pemukiman di
sekitar kawasan pertanian, dimana hasil pertanian langsung diolah pada
rumah-rumah industri sebagai produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi.
Usaha kecil yang dibangun olehnya itu ternyata bisa membawanya menjadi sukses,
melebarkan sayap bisnis agroindustri hingga menjadi usaha properti,bahkan juga
merambah pada pembangunan mal seperti sekarang. Om Bob menjadi inspirasi
bagiku. Nur hanya tersenyum setiap mendengar cita-citaku, dia kemudian
bercerita tentang cita-citanya. Selama ini aku berpikir bahwa Nur berbeda
dengan keluarganya. Mereka sangat membenciku bahkan menentang keras hubungan ku
dengan Nur. Keluarganya merupakan salah satu keluarga terpandang, yang cukup kaya
di desaku. Sedangkan keluargaku bukan lah apa-apa. Tapi hinaan yang selalu
diberikan terhadapku dan ucapan kasar Nur terhadapku di hari itu membuka
mataku. Bahwa Nur bukanlah orang yang tepat menjadi pelabuhan terakhir ku.
Hidup ku masih panjang, tanggung jawab terhadap keluargaku masih terpatri di
pundakku.
Ibu adalah wanita yang paling aku
hormati di dunia, hanya ibu yang ada di saat aku terpuruh, patah hati seperti
ini, senyuman lembut penuh kasih sayang dari ibu yang menjadi semangat ku untuk
terus bekerja keras. Sebagai anak laki-laki satu-satunya membuat ku harus
tegar, kuat menghadapi cobaan di keluarga kami. Ibu, bapak, mbak dan adek ku
masih membutuhkan aku.
“Kamu harus tetap
kuliah Le... maafkan ibu kalau ndak bisa memberikan yang terbaik seperti orang
tua lain berikan pada anaknya”
Ucap ibu sembari menatap mataku,
mataku terasa berat mendengar ibu berkata seperti itu, aku diam, tak menjawab
mataku berkaca. Namun di dasar hatiku, aku selalu mensalutkan apa yang telah
diperjuangkan ibu, Bapak demi menyekolahkan aku. Ibu tidak kenal lelah membuka
warung soto, demi menambah penghasilan bapak. Mereka pun tidak pernah malu bila
harus terpaksa hutang demi kebutuhan aku kuliah tercukupi. Hingga gelar Diploma
berhasil aku sandang di belakang namaku, Bayu
Pramudi, Amd.
Dunia kerja yang aku bayangkan
ternyata jauh dari kenyataan yang aku temui dalam kehidupan nyata. Dia lah
Wahyu sahabatku sejak lama yang menjadi partner kembali di dunia kerja. Tapi
kenyataannya persahabatan tidak selalu berbuah manis, Wahyu yang semula aku
kenal sebagai sesorang yang baik, ternyata tega mengorbankan ku demi kariernya
sendiri. Aku diberi pekerjaan yang terberat, bahkan hingga kesehatanku menurun.
Namun demi keluargaku, setiap pulang ke rumah aku selalu berhasil
menyembunyikan masalah pekerjaanku dengan senyuman.
“Kamu psti
bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Le.. seng sabar.. ibu selalu doakan
kamu Le..”
Ucap ibu tiba-tiba sepulang aku
kerja, aku tidak pernah mengeluh terhadap ibu mengenai pekerjaan ku, tapi
mungkin aku memang selalu gagal untuk menyembunyikan masalahku pada ibu. Aku
hanya tersenyum mendengar ibu berkata seperti itu, dalam hati kuucap kata
“Amiinn”.
Seperti sebuah keajaiban, Tuhan
seperti mendengar doa ibuku. Namaku terdaftar dalam pengumuman hasil
rekruitment sebuah perkebunan besar sebagai tenaga D3 tekhnical. Perusahaan itu
ada di pulau Sumatera, tempat yang jauh dari kampung halamanku. Tempat asing
yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, bahkan belum pernah aku membayangkan
seperti apa kondisi di Sumatera khususnya lampung, provinsi yang terletak
paling selatan pulau sumatera.
Dengan berat kaki ku tinggalkan
pulau Jawa, ku tinggalkan ibu, bapak, mbak, dan adek ku dengan senyuman. Aku tidak ingin muncul kekhawatiran di hati
mereka tentang lingkungan kerjaku di Sumatera. Aku ingin tampak seceria mungkin
melangkah pergi, demi masa depan yang lebih baik nantinya.
Namun kenyataan memang selalu
berjalan bertentangan dengan harapan. Kepahitan selalu aku jumpai, tidak
seperti rasa manis yang aku harapkan ada di tempat ini. Menjadi tenaga kerja
perintis di suatu tempat baru bukan hal yang mudah. Pada saat itu, tenaga D3
tekhnical merupakan program baru perusahaan dimana lulusan D3 dipekerjakan
sebagai mekanik traktor pertanian, sedangkan sebelumnya tenaga mekanik yang
digunakan kebanyakan hanya orang harian dari lulusan STM, SMK. Tentu saja ini
menjadi suatu kesenjangan sosial, dimana gajiku sebagai D3 tekhnical dan aku
pun terhitung orang baru disana menjadi lebih tinggi dibandingkan gaji
orang-orang harian yang sudah belasan tahun kerja di perusahaan ini.
Kesenjangan gaji, dan kurangnya pengalaman tenaga D3 tekhnical membuat
orang-orang harian bertindak anarkis, tidak bisa koorperatif, tidak mau bekerja
sama dalam bekerja. Segala ucapan kasar orang harian terhadapku, hanya aku
telan. Aku terus berusaha sabar mendapat smua ujian ini, yang menjadi
semangatku hanyalah keluarga ku di Jawa. Mereka pasti sangat mengharapkanku
untuk merubah ekonomi keluarga menjadi lebih baik.
Hari demi hari aku lalui di sini,
tidak terasa sudah hampir setahun berlalu. Perkebunan ini masih menjadi
lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, tempat ku melupakan sakit hatiku
terhadap Nur. Hamparan tebu masih terlihat di depan mataku. Udara panas gersang
masih terasa mengundang peluh ku terus mengalir di dahi. Matahari masih terus
menyengatkan cahaya panasnya siang ini di lokasi tempat kerjaku.
“Bayu,
aku laper nih.. jajan gorengan yuk?”
Ucap Putra sembari meletakkan
obeng di tangannya ke wadah perkakas. Dia adalah Putra partner kerjaku yang
belom lama menjadi tenaga D3 tekhnical juga di tempat ini. Putra memiliki
postur tubuh yang sangat tinggi, badannya pun sangat kurus, meski dia banyak
makan badannya tetap saja kurus. Putra orang yang sangat periang, tingkah
konyol putra terkadang membuat pekerjaan yang melelahkan ini terasa ringan.
“Malas
ah put, aku nggak ada duit.”
Jawabku sembari meneruskan
pekerjaan ku.
“ihhh..
ini nih bay pakai uangku aja belinya.. laper nihh...”
Rengek putra dengan muka memelas.
Aku hanya tertawa melihat nya, aku ambil uang itu kemudian membelikannya
gorengan. Setelah gorengan itu aku berikan padanya, tampak putra sedang asik
dengan handphone BalckBerry-nya.
“Lagi
ngapain sih kamu put? Autis sendiri dengan BB.”
Putra tidak menjawab pertanyaan
ku, masih asik sendiri dengan aktivitasnya, sembari mencomot gorengan di dalam
kantung plastik, mulutnya aktif mengunyah dan jemar tangannya masih asik
mengetik di Bbnya. Beberapa lama kemudian putra pun berkata,
“Ini nih ada
kawan aku Bay, si “Kunti” lagi patah hati, nah pacarnya itu kawan aku juga di
asrama si kenzo itu loh Bay, makanya ini aku lagi nge-gossip ma dia sebenernya
masalah dia ama si kenzo tuh apa.”
Aku terdiam sejenak berusaha
mencerna ucapan Putra barusan. Sepertinya aku tau siapa itu Kenzo. Nama itu
cukup populer sebagai mekanik yang suka sok tebar pesona kemana-mana.
“Kamu
bbm-an ma siapa tadi put? ‘kunti’ nggak salah apa namanya koq aneh?!”
“Hohoho.. yah
bukan nama aslinya itu Bay. Itu nama julukan dariku buat dia. Biznya rambut dia
itu terlalu panjang, serem kayak kuntilanak. Aplagi kalo dia udah murka, horor
banget pasti. Muka antagonis.”
“Wah parah
kamu put.. ngasih julukan buat dia kayak gitu, yang mana sih anaknya?”
“Itu loh.. dia
itu Supervisor yang masih tinggal di Mess B, orang bali. Namanya Komang
Vionara, biasa dipanggil Vio. Tetep aneh kan nama panggilannya “VIO’ kyak nama
cowok, atau apa lah aneh..”
“Hmm...”
jawabku singkat kemudian meneruskan pekerjaanku.
Sore ini menjadi hari pertama aku
lebih banyak tau tentang Vio. Gadis aneh yang ku dengar ceritanya dari Putra.
Hari ini putra berkunjung ke tempat Vio tinggal untuk minta tolog sesuatu pada
gadis itu. Ntah apa, aku pun tidak tau persis keperluan Putra saat itu. Aku pun
hanya mengantarkan putra ke tempat Vio. Dan duduk di sofa tanpa menengok ke
arah Vio di balik lemari yang sedang berkomunikasi dengan Putra. Tiba-tiba
terdengar suara gadis itu bertanya pada Putra.
“Kamu
kesini sama siapa tuh put? Koq temennya disana aja?”
Menyadari yang dimaksud gadis itu
adalah aku, aku menoleh ke arah nya, kemudian pergi dari sana, keluar, menunggu
putra di luar rumah. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku segitu malunya pergi,
padahal gadis itu hanya bertanya. Mungkin juga aku masih trauma dengan wanita,
gara-gara rasa sakit hati dengan Nur ini masih saja membekas.
“Vio itu
anaknya baik Bay, ceria, tapi sekarang kasian deh dia tuh lagi patah hati, tapi
yah belom putus sih sama si Kenzo, masih bertahan aja tuh si Vio. Kagak ngerti
juga aku kenapa Vio masih pertahanin orang kayak Kenzo”
Ungkap Putra sepanjang perjalanan
pulang ke asrama masing-masing. Putra tidak cerita banyak tapi sebagian
kata-katanya terngiang di pikiranku. “Patah hati?” sama seperti yang aku alami
setahun yang lalu, masih membekas hingga sekarang sakitnya.
“Bay..
kamu nih ngelamun aja! Besok sabtu di tengah jam kerja jajan bakso ke pasar
yuk!”
Ajakan putra tiba-tiba
membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk pelan sembari terus mengendarai
motor menuju asrama.
“Put..
aku pinjam Bbmu sebentar donk, ada perlu nih. “
Ucapku sesampai di depan asrama
Putra, sebelum dia masuk ke asramanya.
“ohh..
ini nih.”
Jawab putra kemudian memberikan
Bbnya padaku.
Dengan cepat aku kirim kontak
kartu nama Vio ke nomor hp ku, dengan cepat kini kontak BBM ku brtambah hanya
tinggal mengirim invite ke pin BB gadis itu.
BB putra pun aku kembalikan, aku segera pulang ke asrama ku.
Sesampai di asrama kurebahkan
badanku di kasur tipis kemudian dengan ragu membuka daftar kontak bbm ku. Ku
kirimkan invite ke no pin BB Vio. Beberapa saat kemudian aku lihat
notification, bhawa invite ku di accept, diterima di kontak BB Vio.
Sekarang, aku cukup bisa melihat
sekilas seperti apa wajah gadis aneh yang menjadi bahan cerita Putra. Seorang
gadis Bali berpostur wajah membulat, dengan dagu runcing, mata lumayan besar
dan rambut panjang sepinggang. Selama
ini aku hanya mendengar cerita tentang Vio, tapi sekarang aku mungkin bisa
langsung bertanya padanya melalui bbm. Ntah mengapa aku ingin tahu juga mengenai
kebenaran cerita-cerita orang tentang Vio. Aku ingin bisa berteman dengan gadis
itu. Gadis yang bisa membuat Putra kadang tertawa terpingkal-pingkal saat
bbm-an. Gadis yang katanya punya kepribadian unik bahkan cenderung aneh,
sebenarnya seperti apa, aku ingin tahu kebenarannya sendiri.
∞ hai..
Ku ketik kata singkat lalu ku
kirim ke daftar obrol di kontak bernama Komang Vionara. Dapat terlihat pesan
itu sudah di read oleh gadis itu, kemudian terlihat dia mengetik balasan.
¥¥ hai..
¥¥ kamu temennya Putra kan? Koq kemaren kabur
waktu aku panggil? Kenapa?”
Tampak rangkaian pertanyaan di
layar hp ku. Awal mula pertemanan yang baik, Vio ternyata memang bukan tipe
orang yang sombong. Dia gadis yang lumayan ramah dan baik pada semua orang.
Obrolan ringan di bbm membuat ku kini mempunyai teman baru untuk berbagi cerita
yaitu Vio. Kegiatan ber bbm ria menjadi aktivitas rutin antara aku dan Vio.
Sikap Vio yang terkadang manja seperti anak kecil mengingatkan ku pada adek
kandungku di Jawa yaitu Yuni.
Vio selalu bercerita tentang
konfliknya bersama Kenzo. Cerita-cerita tentang mantan, tentang keluarga, dan
masih banyak lagi cerita yang selalu Vio bagi padaku. Gadis sederhana itu pun
selalu bertanya mengenai keluargaku, pengalamanku. Hingga suatu saat dia menanyakan tentang Nur.
Aku pun terpaksa menceritakan tentang Nur, padahal sebenarnya mengingatnya saja
sudah membuat hati ini terasa sakit, tapi Vio selalu bertanya dan bertanya
tanpa kenal putus asa. Aku pun perlahan menceritakan kisahku bersama Nur pada
Vio. Aku bahkan mengirimkan foto Nur yang masih aku simpan pada Vio. Terasa
sesak di dada setiap harus menceritakan tentang Nur pada Vio. Aku pun tersadar
masih belum sepenuhnya bisa melupakan Nur. Sudah hampir setahun lebih berlalu
tapi aku masih belum bisa membuka hati ku pada hati yang baru. Tak terhitung
banyaknya peluang, bahkan kesempatan ketika ada beberapa gadis yang berniat
memasuki hatiku, tapi semua tetap ku rasa hambar. Tidak satu pun dari mereka
bisa membuatku nyaman.
“Mas Bayu tuh
mau cari yang seperti apa lagi sih? Bingung aku mas.. itu semua foto-foto cewek
yang mamas kirim, ceritain ke aku tuh cantik-cantik loh.. susah amat tentuin
pilihan satu aja yang terbaik yang mana?!”
“Belum ada
yang bisa membuat aku merasa nyaman dek..”
“Hadeehhh..
mamas.. mamas.. ya udah kalau begitu, tapi mamas harus move on lah mas, jangan
terus-terusan kebayang Nur terus.. dikit-dikit inget Nur.. apa-apa Nur.. Mas
kayak masih dendam aja ke dia? Jangan gitu lah mas, harus ikhlas. Seharusnya
mas bersyukur, Tuhan tunjukin ke mamas kalau Nur itu bukan gadis yang baik.
Pasti bakal dikirimin Tuhan yang jauh lebih baik mas nanti penggantinya Nur..”
“iyah dek,
tapi kapan?”
“Yah aku juga
nggak tau kapan mas, tapi mas tetap yang sabar aja, tolong mas buka hati mamas
sedikit aja buat nama baru, orang baru, kehidupan baru. Mas harus bisa move
on..”
Ucap Vio dari telfon di seberang
sana. Tidak hanya melalui BBM aku dan Vio berkomunikasi, terkadang gadis itu
menelfonku, atau kadang aku yang menelfonnya. Hanya untuk sekedar bercerita apa
yang dialami hari ini, pengalaman lucu atau bahkan cerita-cerita yang konyol
tentang Vio. Aku kemudian mengakhiri percakapan telefon dengan Vio. Kurasa ada
benarnya apa yang dia bilang tentang aku dan masa laluku. Aku harus bisa move
on. Hidupku bukan hanya berhenti saat ini, tapi akan tetap berlangsung hingga besok, besok dan besoknya lagi. Nur
hanyalah sebagian kecil serpihan cerita di masa lalu yang ku tinggalkan hingga
hari ini ada. Hari dimana aku berusaha membangun cerita baru, nama seseorang
yang baru di hatiku dan kehidupan yang baru.
Dia lah Viona, gadis Bali yang
memberi ku contoh bahwa hidup akan terus berjalan, semua keajaiban itu bisa
terjadi kalau kita tidak pernah berhenti mencoba dan berusaha. Vio yang selalu
jujur bercerita padaku saat dia kesal, saat dia patah hati pada kekasihnya,
saat dia senang dan tertawa lepas, dan masih banyak lagi hal lain yang aku
temui dari seorang Komang Vionara. Vio suka menggambar, membuat
kerajinan-kerajinan tangan, bermusik, memasak dan masih banyak lagi aktivitas
cewek ini, disamping pekerjaannya sebagai supervisor di tempatku bekerja. Gadis
yang sangat aktif,dan kadang punya pemikiran aneh kalau sudah menyangkut hati
dan perasaanya.
“Mas..
mamas tuh kayak doraemon!”
Celetuk vio tiba-tiba, dengan
mimik muka serius dan tetap saja aneh.
“Hah? Koq
doraemon toh nduk?? Apa jangan- jangan gara-gara mamas mu iki, bantat yah?
Wahh.. sempal kowe ndukk”
Jawabku sembari mendorong
kepalanya iseng.
“Hihihi.. yah
biznya mamas tuh kayak Doraemon, selalu ada waktu Nobita ngeluh, cerita,
merengek waktu digangguin giant. Sedangkan pada kasus aku, mamas itu selalu ada
waktu aku patah hati. Mamas tuh dah kayak paket ajaib dari Tuhan yang bisa
bikin aku senyum dan tetep ceria di waktu patah hati. Hmm.. kayak pas patah
hati ma Kenzo, itu aku dah temenan ma mamas toh? Trus sekarang aku diputusin
lagi ama si Arya, mamas juga ada di deket aku jadi tumpuan aku cerita. Hihi
mamas ajaib.. aku sayang doraemonku..”
Ungkap Vio sambil tersenyum
melihatku. Sungguh gadis yang aneh. Membuat persamaan diriku seperti doraemon.
Tapi aku suka dengan persamaan yang dia buat, setidaknya itu membuatku
tersenyum hari ini.
“iyah..
mamas juga sayang banget ma nobita..”
Jawabku sambil tersenyum.
“hehe gitu
donk.. Oh iya mas, ini slayer aku buat mas aja. Dijaga baik-baik yah. Mamas itu
kalo kerja perlengkapan safetynya dilengkapin donk, disini itu sangat berdebu.
Bahaya mas kalo terlalu sering menghisap debu. Bahaya buat paru-paru mas Bayu.
Ini aku ada slayer pake aja buat penutup hidung kalau kerja. Tapi yah ini
slayer ada simbol organisasinya mas. Nggak papa kan?”
Ucap vio kemudian menyerahkan
slayer berwana hijau terang bersimbol segitiga lambang organisasi KIR, dan nama
SMA tempat vio bersekolah dulu.
“iyah
dek makasih yah..”
“Kalau dipikir-pikir
aku juga nggak tahu mas kenapa waktu SMA aku tuh autis banget ikut banyak
ekskul. Kalau slayer ini dari KIR( Karya Ilmiah Remaja). Dulu susah banget aku
ngedapetin slayer ini mas, kudu naek gunung, direndam di bawah air terjun,
lomba renang tuk dapetin slayer tanda anggota pelantikan baru. Dulu tuh
kayaknya anak yang bisa punya ini tuh keren banget, padahal mah sekarang aku
pikir- pikir slayer ini nggak ada fungsinya. Nggak kepake juga ama aku. Hihihi”
“kata
siapa nggak ada fungsinya? Ini buktinya bisa berguna buat mamas kan?”
Jawabku sembari memperhatikan
slayer pemberian Vio. Selesai dari berkunjung ke tempat Vio aku pulang ke
asrama. Kemudian kembali berkomunikasi dengan Vio melalui BBM. Jujur aku merasa
kesal pada gadis itu ketika di bbm tiba-tiba Vio membahas temannya yang bernama
Lia. Seakan-akan seperti mau menjodohkan aku dengan temannya, vio mulai
bercerita tentang Lia dan memintaku untuk menginvite kontak bbm Lia. Aku hanya
menuruti permintaan Vio utuk mencoba berteman dengan Lia sebagaimana Vio
meminta padaku.
Hari-hari pun berlalu, Lia memang
gadis yang baik, meski dia orang baru dalam kehidupanku, tapi sosok Lia bisa
membuatku cukup nyaman, meski aku belom pernah bertemu langsung padanya dan
hanya berkomunikasi melalui BBM, telfon. Lia terkadang membangunkan ku ketika
waktu sholat subuh itu tiba. Lia memiliki banyak kesamaan dengan ku. Satu suku,
satu usaha keluarga yang sama yaitu warung soto, dan tentunya satu iman. Lia
muslimah yang taat dan berjilbab. Itu mungkin menjadi nilai lebih bagi seorang
Lia.
“Kamu
kemana toh dek? Koq ngilang, nggak bbm mamas?”
“Aku sengaja
mas kayak gitu, karena aku tau mamas juga lagi bbm-an ma Lia. Aku mau kasih
space waktu jeda buat mamas bisa fokus ke Lia mas, makanya aku aja yang ngalah
nggak bbm mamas dulu. Aku nggak suka aja mamas sekarang berubah, mamas jadi
boong ma aku. Kenapa nggak jujur aja sih mas kalo mamas udah ada perasaan ke
Lia. Nggak usah pake bilang mamas Cuma temenan biasa ma dia, tapi cerita yang
aku tau dari Lia beda. Mamas nggak biasa ma dia.”
“Maksud kamu
itu apa sih dek? Kamu mau jodohin mamas mu karena mamas ini nggak laku-laku.
Kamu sombong karena kamu punya pacar. Kamu punya Arya. Kamu ini nggak pernah
nanggepin keberadaan mamas, kamu nggak hargain mamasmu yah.. Sekarang kamu
marah ma mamas, kamu cemburu??”
“Mas Bayu ini
ngomong apa sih? Justru aku yang bingung mamas itu kenapa. Di PM mamas bikin
status kalo mamas itu Cuma doraemon, yang dicari nobita karena butuh kantong
ajaib, tapi kalo nobita nggak butuh bakal dicampakin tuh doraemon? Maksud mamas
apa bilang gitu?”
“Tapi
kenyataannya memang kayak gitu dek, kamu bahkan ngebatalin janji kamu buat
malam minggu ini makan bareng sama mamas hanya demi kamu maen ke rumah Arya! Nikah
aja kamu sekalian biar cepet selesai urusannya! Kamu nggak berpikir apa? Mamas
kesepian di sini, apa salah kalau sekarang mas deket dengan Lia dek? Kenapa
kamu marah?”
“Mas.. aku
pergi ke tempat Arya, ibunya Arya sakit mas. Aku disana ngebantu ngerawat
ibunya Arya, Kenapa sih mamas selalu perpikir negatif dengan aku? Aku pergi
kesana pun pamid dulu ma mamas. Mamas bilang aku nggak pernah menghargai mamas?
Maksudnya gimana mas? Mamas nggak pernah jujur bilang ke aku sebenarnya apa
yang ada di hati mamas..mamas nggak pernah bilang ke aku.”
“seharusnya
kamu bisa mikir dek?”
“Mas, aku
pernah kirimin lagu judulnya “aku bukan malaikat” ke mamas kan? Secara umum
seperti itu mas, aku nggak bakal bisa nebak-nebak apa yang ada di hati mamas,
kalau mamas nggak ngomong langsung ke aku.”
Setiap bicara kepadamu,,, tak
pernah kau hirau,
jawab seadanya penuh makna,,, kau melewatkanku
Katakan salahku.....
aku
bukan malaikat ,selalu di sampingmu.
Mendengar
semua hasrat di hatimu.
kau tak
perlu bicara dan aku harus tahu.. apa yang kau mau.....
Bila
aku bisa selalu disampingmu,
kulakukan
semua apa yang kau minta d
an ku
genggam dunia hanya untukmu,,tak kan ku lepas selamanya...
Ku hanya manusia yang tak kan
bisa terus mengertimu,
Dan Bila engkau mengira ku tak
mencoba,, hentikan lah nafasku....
Dan Kau pun menghilang tanpa tunjukkan salah ku...