Jumat, 28 Februari 2014

Bias Hujan di Ujung Pelangi








Ku ingin menangis di derai hujan hingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku sedang menangis saat ini. Di luar sana masih hujan,aku masih terus berlari dan berlari..  apa pernah kamu tahu berlari dalam terpaan hujan itu sakit? Namun tak mengapa dibandingkan rasa sakit yang kini terukir dalam di hatiku. Kata-kata sederhana yang kian menyakitkan itu keluar dari bibir manis orang yang paling aku cintai.
“Kamu memang laki-laki yang tidak berguna Bayu, payah, tidak pernah punya uang dan nggak bisa apa-apa!”
Gadis itu adalah Nur, seseorang yang mengisi hatiku sudah hamir 3 tahun. Ntah setan apa yang merasuki pikirannya sehingga kata-kata yang begitu kasar itu terucap buat aku, orang yang ku pikir dicintai sbagaimana aku mencintainya. Di mataku Nur adalah gadis bertubuh mungil yang sempura, aku cinta dia, sangat mencintainya. Hal apa pun yang bisa membuatnya tersenyum akan aku usahakan bisa ku lakukan. Nur adalah seorang gadis Jawa bertubuh mungil, bersenyum manis, ceria, memiliki cita-cita yang tinggi. Selama masa kuliah ini aku selalu berbagi dengannya, apa pun yang ku punya ku prioritaskan untuknya. Nur juga selalu setia menemaniku touring motor ke tempat-tempat yang jauh. Yah,, touring motor adalah hobiku, sebelum motor itu terpaksa dijual untuk biaya kuliah, membayar hutang orang tuaku. Semua hobi itu harus ku tinggalkan sekarang, kebahagiaan yang ku dapat dengan Nur ternyata hanya sebuah ilusi yang menutup mata ku tentang fakta yang sebenarnya bahwa hidup itu keras. Yah,, hidup itu keras, aku harus melawan jika tidak mau tergilas kehidupan, terus menerus menjadi orang tertindas. Aku memiliki cita – cita yang dulu sering aku ungkapkan pada Nur.
 “Suatu saat aku bakalan jadi sperti om Bob Sadino dek..”
Semua orang pasti kenal dia, pengusaha sukses pemula agroindustri Indonesia, berdasar pada pemikiran sederhana mengenai Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya sebagai petani, om bob sadino mengembangkan pola pemukiman di sekitar kawasan pertanian, dimana hasil pertanian langsung diolah pada rumah-rumah industri sebagai produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi. Usaha kecil yang dibangun olehnya itu ternyata bisa membawanya menjadi sukses, melebarkan sayap bisnis agroindustri hingga menjadi usaha properti,bahkan juga merambah pada pembangunan mal seperti sekarang. Om Bob menjadi inspirasi bagiku. Nur hanya tersenyum setiap mendengar cita-citaku, dia kemudian bercerita tentang cita-citanya. Selama ini aku berpikir bahwa Nur berbeda dengan keluarganya. Mereka sangat membenciku bahkan menentang keras hubungan ku dengan Nur. Keluarganya merupakan salah satu keluarga terpandang, yang cukup kaya di desaku. Sedangkan keluargaku bukan lah apa-apa. Tapi hinaan yang selalu diberikan terhadapku dan ucapan kasar Nur terhadapku di hari itu membuka mataku. Bahwa Nur bukanlah orang yang tepat menjadi pelabuhan terakhir ku. Hidup ku masih panjang, tanggung jawab terhadap keluargaku masih terpatri di pundakku.
Ibu adalah wanita yang paling aku hormati di dunia, hanya ibu yang ada di saat aku terpuruh, patah hati seperti ini, senyuman lembut penuh kasih sayang dari ibu yang menjadi semangat ku untuk terus bekerja keras. Sebagai anak laki-laki satu-satunya membuat ku harus tegar, kuat menghadapi cobaan di keluarga kami. Ibu, bapak, mbak dan adek ku masih membutuhkan aku.
“Kamu harus tetap kuliah Le... maafkan ibu kalau ndak bisa memberikan yang terbaik seperti orang tua lain berikan pada anaknya”
Ucap ibu sembari menatap mataku, mataku terasa berat mendengar ibu berkata seperti itu, aku diam, tak menjawab mataku berkaca. Namun di dasar hatiku, aku selalu mensalutkan apa yang telah diperjuangkan ibu, Bapak demi menyekolahkan aku. Ibu tidak kenal lelah membuka warung soto, demi menambah penghasilan bapak. Mereka pun tidak pernah malu bila harus terpaksa hutang demi kebutuhan aku kuliah tercukupi. Hingga gelar Diploma berhasil aku sandang di belakang namaku, Bayu Pramudi, Amd.
Dunia kerja yang aku bayangkan ternyata jauh dari kenyataan yang aku temui dalam kehidupan nyata. Dia lah Wahyu sahabatku sejak lama yang menjadi partner kembali di dunia kerja. Tapi kenyataannya persahabatan tidak selalu berbuah manis, Wahyu yang semula aku kenal sebagai sesorang yang baik, ternyata tega mengorbankan ku demi kariernya sendiri. Aku diberi pekerjaan yang terberat, bahkan hingga kesehatanku menurun. Namun demi keluargaku, setiap pulang ke rumah aku selalu berhasil menyembunyikan masalah pekerjaanku dengan senyuman.
“Kamu psti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Le.. seng sabar.. ibu selalu doakan kamu Le..”
Ucap ibu tiba-tiba sepulang aku kerja, aku tidak pernah mengeluh terhadap ibu mengenai pekerjaan ku, tapi mungkin aku memang selalu gagal untuk menyembunyikan masalahku pada ibu. Aku hanya tersenyum mendengar ibu berkata seperti itu, dalam hati kuucap kata “Amiinn”.
Seperti sebuah keajaiban, Tuhan seperti mendengar doa ibuku. Namaku terdaftar dalam pengumuman hasil rekruitment sebuah perkebunan besar sebagai tenaga D3 tekhnical. Perusahaan itu ada di pulau Sumatera, tempat yang jauh dari kampung halamanku. Tempat asing yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, bahkan belum pernah aku membayangkan seperti apa kondisi di Sumatera khususnya lampung, provinsi yang terletak paling selatan pulau sumatera.
Dengan berat kaki ku tinggalkan pulau Jawa, ku tinggalkan ibu, bapak, mbak, dan adek ku dengan senyuman.  Aku tidak ingin muncul kekhawatiran di hati mereka tentang lingkungan kerjaku di Sumatera. Aku ingin tampak seceria mungkin melangkah pergi, demi masa depan yang lebih baik nantinya.
Namun kenyataan memang selalu berjalan bertentangan dengan harapan. Kepahitan selalu aku jumpai, tidak seperti rasa manis yang aku harapkan ada di tempat ini. Menjadi tenaga kerja perintis di suatu tempat baru bukan hal yang mudah. Pada saat itu, tenaga D3 tekhnical merupakan program baru perusahaan dimana lulusan D3 dipekerjakan sebagai mekanik traktor pertanian, sedangkan sebelumnya tenaga mekanik yang digunakan kebanyakan hanya orang harian dari lulusan STM, SMK. Tentu saja ini menjadi suatu kesenjangan sosial, dimana gajiku sebagai D3 tekhnical dan aku pun terhitung orang baru disana menjadi lebih tinggi dibandingkan gaji orang-orang harian yang sudah belasan tahun kerja di perusahaan ini. Kesenjangan gaji, dan kurangnya pengalaman tenaga D3 tekhnical membuat orang-orang harian bertindak anarkis, tidak bisa koorperatif, tidak mau bekerja sama dalam bekerja. Segala ucapan kasar orang harian terhadapku, hanya aku telan. Aku terus berusaha sabar mendapat smua ujian ini, yang menjadi semangatku hanyalah keluarga ku di Jawa. Mereka pasti sangat mengharapkanku untuk merubah ekonomi keluarga menjadi lebih baik.
Hari demi hari aku lalui di sini, tidak terasa sudah hampir setahun berlalu. Perkebunan ini masih menjadi lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, tempat ku melupakan sakit hatiku terhadap Nur. Hamparan tebu masih terlihat di depan mataku. Udara panas gersang masih terasa mengundang peluh ku terus mengalir di dahi. Matahari masih terus menyengatkan cahaya panasnya siang ini di lokasi tempat kerjaku.
                “Bayu, aku laper nih.. jajan gorengan yuk?”
Ucap Putra sembari meletakkan obeng di tangannya ke wadah perkakas. Dia adalah Putra partner kerjaku yang belom lama menjadi tenaga D3 tekhnical juga di tempat ini. Putra memiliki postur tubuh yang sangat tinggi, badannya pun sangat kurus, meski dia banyak makan badannya tetap saja kurus. Putra orang yang sangat periang, tingkah konyol putra terkadang membuat pekerjaan yang melelahkan ini terasa ringan.
                “Malas ah put, aku nggak ada duit.”
Jawabku sembari meneruskan pekerjaan ku.
                “ihhh.. ini nih bay pakai uangku aja belinya.. laper nihh...”
Rengek putra dengan muka memelas. Aku hanya tertawa melihat nya, aku ambil uang itu kemudian membelikannya gorengan. Setelah gorengan itu aku berikan padanya, tampak putra sedang asik dengan handphone BalckBerry-nya.
                “Lagi ngapain sih kamu put? Autis sendiri dengan BB.”
Putra tidak menjawab pertanyaan ku, masih asik sendiri dengan aktivitasnya, sembari mencomot gorengan di dalam kantung plastik, mulutnya aktif mengunyah dan jemar tangannya masih asik mengetik di Bbnya. Beberapa lama kemudian putra pun berkata,
“Ini nih ada kawan aku Bay, si “Kunti” lagi patah hati, nah pacarnya itu kawan aku juga di asrama si kenzo itu loh Bay, makanya ini aku lagi nge-gossip ma dia sebenernya masalah dia ama si kenzo tuh apa.”
Aku terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan Putra barusan. Sepertinya aku tau siapa itu Kenzo. Nama itu cukup populer sebagai mekanik yang suka sok tebar pesona kemana-mana.
                “Kamu bbm-an ma siapa tadi put? ‘kunti’ nggak salah apa namanya koq aneh?!”
“Hohoho.. yah bukan nama aslinya itu Bay. Itu nama julukan dariku buat dia. Biznya rambut dia itu terlalu panjang, serem kayak kuntilanak. Aplagi kalo dia udah murka, horor banget pasti. Muka antagonis.”
“Wah parah kamu put.. ngasih julukan buat dia kayak gitu, yang mana sih anaknya?”
“Itu loh.. dia itu Supervisor yang masih tinggal di Mess B, orang bali. Namanya Komang Vionara, biasa dipanggil Vio. Tetep aneh kan nama panggilannya “VIO’ kyak nama cowok, atau apa lah aneh..”
                “Hmm...” jawabku singkat kemudian meneruskan pekerjaanku.
Sore ini menjadi hari pertama aku lebih banyak tau tentang Vio. Gadis aneh yang ku dengar ceritanya dari Putra. Hari ini putra berkunjung ke tempat Vio tinggal untuk minta tolog sesuatu pada gadis itu. Ntah apa, aku pun tidak tau persis keperluan Putra saat itu. Aku pun hanya mengantarkan putra ke tempat Vio. Dan duduk di sofa tanpa menengok ke arah Vio di balik lemari yang sedang berkomunikasi dengan Putra. Tiba-tiba terdengar suara gadis itu bertanya pada Putra.
                “Kamu kesini sama siapa tuh put? Koq temennya disana aja?”
Menyadari yang dimaksud gadis itu adalah aku, aku menoleh ke arah nya, kemudian pergi dari sana, keluar, menunggu putra di luar rumah. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku segitu malunya pergi, padahal gadis itu hanya bertanya. Mungkin juga aku masih trauma dengan wanita, gara-gara rasa sakit hati dengan Nur ini masih saja membekas.
“Vio itu anaknya baik Bay, ceria, tapi sekarang kasian deh dia tuh lagi patah hati, tapi yah belom putus sih sama si Kenzo, masih bertahan aja tuh si Vio. Kagak ngerti juga aku kenapa Vio masih pertahanin orang kayak Kenzo”
Ungkap Putra sepanjang perjalanan pulang ke asrama masing-masing. Putra tidak cerita banyak tapi sebagian kata-katanya terngiang di pikiranku. “Patah hati?” sama seperti yang aku alami setahun yang lalu, masih membekas hingga sekarang sakitnya.
                “Bay.. kamu nih ngelamun aja! Besok sabtu di tengah jam kerja jajan bakso ke pasar yuk!”
Ajakan putra tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk pelan sembari terus mengendarai motor menuju asrama.
                “Put.. aku pinjam Bbmu sebentar donk, ada perlu nih. “
Ucapku sesampai di depan asrama Putra, sebelum dia masuk ke asramanya.
                “ohh.. ini nih.”
Jawab putra kemudian memberikan Bbnya padaku.
Dengan cepat aku kirim kontak kartu nama Vio ke nomor hp ku, dengan cepat kini kontak BBM ku brtambah hanya tinggal mengirim invite ke pin BB gadis itu.  BB putra pun aku kembalikan, aku segera pulang ke asrama ku.
Sesampai di asrama kurebahkan badanku di kasur tipis kemudian dengan ragu membuka daftar kontak bbm ku. Ku kirimkan invite ke no pin BB Vio. Beberapa saat kemudian aku lihat notification, bhawa invite ku di accept, diterima di kontak BB Vio.
Sekarang, aku cukup bisa melihat sekilas seperti apa wajah gadis aneh yang menjadi bahan cerita Putra. Seorang gadis Bali berpostur wajah membulat, dengan dagu runcing, mata lumayan besar dan rambut panjang sepinggang.  Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang Vio, tapi sekarang aku mungkin bisa langsung bertanya padanya melalui bbm. Ntah mengapa aku ingin tahu juga mengenai kebenaran cerita-cerita orang tentang Vio. Aku ingin bisa berteman dengan gadis itu. Gadis yang bisa membuat Putra kadang tertawa terpingkal-pingkal saat bbm-an. Gadis yang katanya punya kepribadian unik bahkan cenderung aneh, sebenarnya seperti apa, aku ingin tahu kebenarannya sendiri.
hai..
Ku ketik kata singkat lalu ku kirim ke daftar obrol di kontak bernama Komang Vionara. Dapat terlihat pesan itu sudah di read oleh gadis itu, kemudian terlihat dia mengetik balasan.
¥¥  hai..
¥¥  kamu temennya Putra kan? Koq kemaren kabur waktu aku panggil? Kenapa?”
Tampak rangkaian pertanyaan di layar hp ku. Awal mula pertemanan yang baik, Vio ternyata memang bukan tipe orang yang sombong. Dia gadis yang lumayan ramah dan baik pada semua orang. Obrolan ringan di bbm membuat ku kini mempunyai teman baru untuk berbagi cerita yaitu Vio. Kegiatan ber bbm ria menjadi aktivitas rutin antara aku dan Vio. Sikap Vio yang terkadang manja seperti anak kecil mengingatkan ku pada adek kandungku di Jawa yaitu Yuni.
Vio selalu bercerita tentang konfliknya bersama Kenzo. Cerita-cerita tentang mantan, tentang keluarga, dan masih banyak lagi cerita yang selalu Vio bagi padaku. Gadis sederhana itu pun selalu bertanya mengenai keluargaku, pengalamanku.  Hingga suatu saat dia menanyakan tentang Nur. Aku pun terpaksa menceritakan tentang Nur, padahal sebenarnya mengingatnya saja sudah membuat hati ini terasa sakit, tapi Vio selalu bertanya dan bertanya tanpa kenal putus asa. Aku pun perlahan menceritakan kisahku bersama Nur pada Vio. Aku bahkan mengirimkan foto Nur yang masih aku simpan pada Vio. Terasa sesak di dada setiap harus menceritakan tentang Nur pada Vio. Aku pun tersadar masih belum sepenuhnya bisa melupakan Nur. Sudah hampir setahun lebih berlalu tapi aku masih belum bisa membuka hati ku pada hati yang baru. Tak terhitung banyaknya peluang, bahkan kesempatan ketika ada beberapa gadis yang berniat memasuki hatiku, tapi semua tetap ku rasa hambar. Tidak satu pun dari mereka bisa membuatku nyaman.
“Mas Bayu tuh mau cari yang seperti apa lagi sih? Bingung aku mas.. itu semua foto-foto cewek yang mamas kirim, ceritain ke aku tuh cantik-cantik loh.. susah amat tentuin pilihan satu aja yang terbaik yang mana?!”
“Belum ada yang bisa membuat aku merasa nyaman dek..”
“Hadeehhh.. mamas.. mamas.. ya udah kalau begitu, tapi mamas harus move on lah mas, jangan terus-terusan kebayang Nur terus.. dikit-dikit inget Nur.. apa-apa Nur.. Mas kayak masih dendam aja ke dia? Jangan gitu lah mas, harus ikhlas. Seharusnya mas bersyukur, Tuhan tunjukin ke mamas kalau Nur itu bukan gadis yang baik. Pasti bakal dikirimin Tuhan yang jauh lebih baik mas nanti penggantinya Nur..”
“iyah dek, tapi kapan?”
“Yah aku juga nggak tau kapan mas, tapi mas tetap yang sabar aja, tolong mas buka hati mamas sedikit aja buat nama baru, orang baru, kehidupan baru. Mas harus bisa move on..”
Ucap Vio dari telfon di seberang sana. Tidak hanya melalui BBM aku dan Vio berkomunikasi, terkadang gadis itu menelfonku, atau kadang aku yang menelfonnya. Hanya untuk sekedar bercerita apa yang dialami hari ini, pengalaman lucu atau bahkan cerita-cerita yang konyol tentang Vio. Aku kemudian mengakhiri percakapan telefon dengan Vio. Kurasa ada benarnya apa yang dia bilang tentang aku dan masa laluku. Aku harus bisa move on. Hidupku bukan hanya berhenti saat ini, tapi akan tetap berlangsung  hingga besok, besok dan besoknya lagi. Nur hanyalah sebagian kecil serpihan cerita di masa lalu yang ku tinggalkan hingga hari ini ada. Hari dimana aku berusaha membangun cerita baru, nama seseorang yang baru di hatiku dan kehidupan yang baru.
Dia lah Viona, gadis Bali yang memberi ku contoh bahwa hidup akan terus berjalan, semua keajaiban itu bisa terjadi kalau kita tidak pernah berhenti mencoba dan berusaha. Vio yang selalu jujur bercerita padaku saat dia kesal, saat dia patah hati pada kekasihnya, saat dia senang dan tertawa lepas, dan masih banyak lagi hal lain yang aku temui dari seorang Komang Vionara. Vio suka menggambar, membuat kerajinan-kerajinan tangan, bermusik, memasak dan masih banyak lagi aktivitas cewek ini, disamping pekerjaannya sebagai supervisor di tempatku bekerja. Gadis yang sangat aktif,dan kadang punya pemikiran aneh kalau sudah menyangkut hati dan perasaanya.
                “Mas.. mamas tuh kayak doraemon!”
Celetuk vio tiba-tiba, dengan mimik muka serius dan tetap saja aneh.
“Hah? Koq doraemon toh nduk?? Apa jangan- jangan gara-gara mamas mu iki, bantat yah? Wahh.. sempal kowe ndukk”
Jawabku sembari mendorong kepalanya iseng.
“Hihihi.. yah biznya mamas tuh kayak Doraemon, selalu ada waktu Nobita ngeluh, cerita, merengek waktu digangguin giant. Sedangkan pada kasus aku, mamas itu selalu ada waktu aku patah hati. Mamas tuh dah kayak paket ajaib dari Tuhan yang bisa bikin aku senyum dan tetep ceria di waktu patah hati. Hmm.. kayak pas patah hati ma Kenzo, itu aku dah temenan ma mamas toh? Trus sekarang aku diputusin lagi ama si Arya, mamas juga ada di deket aku jadi tumpuan aku cerita. Hihi mamas ajaib.. aku sayang doraemonku..”
Ungkap Vio sambil tersenyum melihatku. Sungguh gadis yang aneh. Membuat persamaan diriku seperti doraemon. Tapi aku suka dengan persamaan yang dia buat, setidaknya itu membuatku tersenyum hari ini.
                “iyah.. mamas juga sayang banget ma nobita..”
Jawabku sambil tersenyum.
“hehe gitu donk.. Oh iya mas, ini slayer aku buat mas aja. Dijaga baik-baik yah. Mamas itu kalo kerja perlengkapan safetynya dilengkapin donk, disini itu sangat berdebu. Bahaya mas kalo terlalu sering menghisap debu. Bahaya buat paru-paru mas Bayu. Ini aku ada slayer pake aja buat penutup hidung kalau kerja. Tapi yah ini slayer ada simbol organisasinya mas. Nggak papa kan?”
Ucap vio kemudian menyerahkan slayer berwana hijau terang bersimbol segitiga lambang organisasi KIR, dan nama SMA tempat vio bersekolah dulu.
                “iyah dek makasih yah..”
“Kalau dipikir-pikir aku juga nggak tahu mas kenapa waktu SMA aku tuh autis banget ikut banyak ekskul. Kalau slayer ini dari KIR( Karya Ilmiah Remaja). Dulu susah banget aku ngedapetin slayer ini mas, kudu naek gunung, direndam di bawah air terjun, lomba renang tuk dapetin slayer tanda anggota pelantikan baru. Dulu tuh kayaknya anak yang bisa punya ini tuh keren banget, padahal mah sekarang aku pikir- pikir slayer ini nggak ada fungsinya. Nggak kepake juga ama aku. Hihihi”
                “kata siapa nggak ada fungsinya? Ini buktinya bisa berguna buat mamas kan?”
Jawabku sembari memperhatikan slayer pemberian Vio. Selesai dari berkunjung ke tempat Vio aku pulang ke asrama. Kemudian kembali berkomunikasi dengan Vio melalui BBM. Jujur aku merasa kesal pada gadis itu ketika di bbm tiba-tiba Vio membahas temannya yang bernama Lia. Seakan-akan seperti mau menjodohkan aku dengan temannya, vio mulai bercerita tentang Lia dan memintaku untuk menginvite kontak bbm Lia. Aku hanya menuruti permintaan Vio utuk mencoba berteman dengan Lia sebagaimana Vio meminta padaku.
Hari-hari pun berlalu, Lia memang gadis yang baik, meski dia orang baru dalam kehidupanku, tapi sosok Lia bisa membuatku cukup nyaman, meski aku belom pernah bertemu langsung padanya dan hanya berkomunikasi melalui BBM, telfon. Lia terkadang membangunkan ku ketika waktu sholat subuh itu tiba. Lia memiliki banyak kesamaan dengan ku. Satu suku, satu usaha keluarga yang sama yaitu warung soto, dan tentunya satu iman. Lia muslimah yang taat dan berjilbab. Itu mungkin menjadi nilai lebih bagi seorang Lia.
                “Kamu kemana toh dek? Koq ngilang, nggak bbm mamas?”
“Aku sengaja mas kayak gitu, karena aku tau mamas juga lagi bbm-an ma Lia. Aku mau kasih space waktu jeda buat mamas bisa fokus ke Lia mas, makanya aku aja yang ngalah nggak bbm mamas dulu. Aku nggak suka aja mamas sekarang berubah, mamas jadi boong ma aku. Kenapa nggak jujur aja sih mas kalo mamas udah ada perasaan ke Lia. Nggak usah pake bilang mamas Cuma temenan biasa ma dia, tapi cerita yang aku tau dari Lia beda. Mamas nggak biasa ma dia.”
“Maksud kamu itu apa sih dek? Kamu mau jodohin mamas mu karena mamas ini nggak laku-laku. Kamu sombong karena kamu punya pacar. Kamu punya Arya. Kamu ini nggak pernah nanggepin keberadaan mamas, kamu nggak hargain mamasmu yah.. Sekarang kamu marah ma mamas, kamu cemburu??”
“Mas Bayu ini ngomong apa sih? Justru aku yang bingung mamas itu kenapa. Di PM mamas bikin status kalo mamas itu Cuma doraemon, yang dicari nobita karena butuh kantong ajaib, tapi kalo nobita nggak butuh bakal dicampakin tuh doraemon? Maksud mamas apa bilang gitu?”
“Tapi kenyataannya memang kayak gitu dek, kamu bahkan ngebatalin janji kamu buat malam minggu ini makan bareng sama mamas hanya demi kamu maen ke rumah Arya! Nikah aja kamu sekalian biar cepet selesai urusannya! Kamu nggak berpikir apa? Mamas kesepian di sini, apa salah kalau sekarang mas deket dengan Lia dek? Kenapa kamu marah?”
“Mas.. aku pergi ke tempat Arya, ibunya Arya sakit mas. Aku disana ngebantu ngerawat ibunya Arya, Kenapa sih mamas selalu perpikir negatif dengan aku? Aku pergi kesana pun pamid dulu ma mamas. Mamas bilang aku nggak pernah menghargai mamas? Maksudnya gimana mas? Mamas nggak pernah jujur bilang ke aku sebenarnya apa yang ada di hati mamas..mamas nggak pernah bilang ke aku.”
“seharusnya kamu bisa mikir dek?”
“Mas, aku pernah kirimin lagu judulnya “aku bukan malaikat” ke mamas kan? Secara umum seperti itu mas, aku nggak bakal bisa nebak-nebak apa yang ada di hati mamas, kalau mamas nggak ngomong langsung ke aku.”

Setiap bicara kepadamu,,, tak pernah kau hirau,
 jawab seadanya penuh makna,,, kau melewatkanku
Katakan salahku.....
aku bukan malaikat ,selalu di sampingmu.
Mendengar semua hasrat di hatimu.
kau tak perlu bicara dan aku harus tahu.. apa yang kau mau.....
Bila aku bisa selalu disampingmu,
kulakukan semua apa yang kau minta d
an ku genggam dunia hanya untukmu,,tak kan ku lepas selamanya...
Ku hanya manusia yang tak kan bisa terus mengertimu,
Dan Bila engkau mengira ku tak mencoba,, hentikan lah nafasku....
Dan Kau  pun menghilang tanpa tunjukkan salah ku...

Lagu itu pun terlintas dipikiranku. Mungkin aku yang selama ini terlalu diam, atau mungkin Vio yang tidak peka dengan apa yang aku rasakan dengannya. Tidak ada yang salah dengan perasaan, karena cinta itu anugerah Tuhan. Setidaknya kini Vio tau. Dan kami pun tahu bahwa kami terjebak dalam ituasi yang rumit. Vio masih menjadi milik Arya, dan aku kini mulai dekat dengan Lia. Di sisi lain perbedaan basic yang amat berbeda membuat jurang antara aku dan Vio semakin berat. Cinta ini anugerah, butuh diperjuangkan. Cinta diciptakan oleh Tuhan sebagai ikatan antara dua manusia yang memiliki perbedaan untuk dapat saling melengkapi, menutupi kekurangan dengan kelebihan masing-masing, dan tidak akan bisa dengan mudah dipisahkan oleh manusia. Tapi Basic ini sulit ditembus, beda keyakinan membuat kami harus bisa ikhlas. Toh cinta itu bukan hanya sebatas untuk memiliki dan dimiliki, cinta adalah saling memberi dan menerima, saling mendukung dan membutuhkan. Berdasar atas nama cinta hubungan ku dengan Vio hingga kini berjalan baik sebagai mamas dan adiknya. Hingga suatu saat Tuhan akan memberi petunjuk jelas. Kemana kah arah yang harus kami pilih. Hidup itu sederhana, sesederhana kamu memillih sesuatu yang kamu inginkan, Namun kamu juga harus tahu, bahwa semua pilihan itu memiliki resiko. Tidak akan selalu berjalan mulus sesuai harapan. Dan Hidup kita akan menjadi terlalu singkat bila dihabiskan dengan pilihan yang salah. Semoga cerita ini berakhir sesuai rencana Tuhan. Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bukan dengan Nur seperti kemauanku dahulu, tapi ntah dengan siapa kelak cinta ini menemukan pelabuhan trakhirnya.


     


THE END

He is My Boy

Dia adalah orang yang mengajari aku untuk selalu sabar.
Cowok sederhana bertatapan mata sayu yang selalu tersenyum di balik dukanya.
Cowok tangguh yang di usia muda sudah menjadi tulang punggung keluarganya.
Cowok yang selalu berusaha berkata "Semua bakalan baek- baek aja nduk.. kamu tenang yo.. tenangno pikirmu.." di situasi sesulit apa pun.
Cowok yang selalu bersedia meminjamkan bahunya untuk bersandar kapan saja aku ingin bermanja..
Cowok yang kaya kreativitas untuk membuat resep masakan..
Cowok yang menjadi sosok menyeramkan ketika dia dipenuhi emosi dan cemburu,, namun bisa juga menjadi sosok yang penuh kekonyolan dengan segala tingkah anehnya..
Cowok yang biasa namun luar biasa..
He is my boy...
"Gembul"



Kirana Menanti (Part 1)




Masa-masa merana kini harus dilalui Kirana di usianya yang memasuki 24 tahun.  Masa labil remaja itu sudah berlalu berganti masa penantian. Menanti hal-hal yang diinginkan untuk melangkah kembali ke dunia yang baru, setelah melalui dunia wanita lajang yang aktif dan mandiri.. Yup.. dunia pernikahan. Dunia di mana seorang isteri mengabdikan hidupnya pada suami, dunia dimana seorang anak perempuan kecil bunda yang manja harus berdiri tegak membimbing anaknya  kelak menjadi seorang ibu, seperti yang dilakukan sang bundanya dahulu.  Dunia dimana kebebasan seorang wanita lajang harus diubah, menjadi berkomitmen. Yup.. berkomitmen pada cincin yang melingkar di jari manis, sehidup semati dengan sang pujaan hati, mengabdi, selalu  ingat akan ikrar suci pernikahan. Menyatukan dua hati, dua karakter, dua sifat, dua otak menjadi satu visi misi ke depan.
Kiran masih merasa belum siap mencapai itu semua. Yup.. Kirana masih seorang gadis yang dengan watak kerasnya berusaha meraih semua mimpi-mimpinya yang belum tercapai. Kirana masih cengeng, masih sering mengeluh karena hal sepele, masih sering berpikir hal-hal konyol. Meski usianya mencapai kepala dua, kelakuannya tidak banyak berubah waktu usianya belasan tahun. Suatu prestasi atau ironi, hanya Kirana yang menilainya sendiri. Yup.. sekali lagi Kirana masih egois untuk memikirkan dirinya sendiri, mimpi – mimpinya dan belum sampai pada titik jenuh pada masa lajang untuk saat ini, dan ntah bagaimana setahun, dua tahun ke depan.
Ternyata hidup tidak sesimple cerita dongeng, tak semagic cerita komik manga, tak sedrama sinetron. Hidup itu ringan ketika dipikirkan namun sangat berat untuk dijalani. Itu yang Kirana rasakan saat ini. Cinta tak selamanya membahagiakan, membuat kesal, membuat patah hati. Namun cinta merupakan suatu teori yang membingungkan. Ketika cinta kamu genggam seperti menggenggam pasir dengan satu kepalan tangan, berusaha sebanyak mungkin meraup  pasir, berusaha sebanyak mungkin menggengamnya maka hasil yang dieroleh justru bertolak belakang dengan usaha keras yang kamu lakukan itu. Hasilnya justru pasir yang kamu genggam hanya sedikit, banyak yang terbuang, dan tentunya telapak tanganmu justru terasa sakit. Lain halnya ketika kamu meraih pasir itu dengan perlahan dengan menyatukan dua telapak tanganmu menjadi mangkuk yang meraup pasir dengan bersamaan dan perlahan, maka hasil yang didapat adalah pasir dicakupan tanganmu menjadi banyak dan terasa lembut di telapak tangan. Seperti itu lah cinta. Tak bisa digenggam terlalu keras, terlalu banyak dan terlalu egois. Cita harus diraih secara perlahan secara kompak dua anak manusia dengan sabar baru tercapai keindahannya.
Dunia Respati tak jauh berbeda dengan yang dihadapi Kirana. Penantian terhadap sang arjuna di seberang pulau sana tak kunjung menemui titik terang. Cincin yang melingkar di jari manis Respati hanya seperti vigura kosong tanpa lukisan di dalamnya, terasa hampa. Hanya bangkai tanpa jiwa, yang menertawakan kesendirian Respati saat ini. Di luar jendela klinik bersalin masih gerimis, Respati termenung menatap jam di pergelangan tangannya. Yup masih pukul sebelas malam. Waktu yang seharusnya bisa membuatnya mengantuk. Namun tidak saat ini, bayang-bayang sang arjuna selalu muncul di pikirannya. Kemana Arjuna sekarang? Tiada dering telefon, bahkan sepatah dua patah kalimat di sms pun sebenarnya cukup bisa membuat hatinya lega. Respati melirik ke arah aquarium ikan di klinik tersebut, ada setumpuk undangan pernikahan yang menanti untuk didatangi Respati sebangai para undangan.
            “Shhhh... kapan giliranku yah? Koq kondangan terus aja, kapan aku yang duduk di pelaminan? Juna kamu dimana sih?”
Tiba- tiba handphone Repati bergetar, begitu cerah hati respati, ternyata..
            “halo,, Res.. udah tidur belom? Ini gue kiran.. kagak bisa tidur gue bu...”
            “hah.. iyah Ran, Gue juga masih dinas malem koq jaga klinik..Lo kenape bu? Tumbenan seorang Kiran galau ampe kagak bisa tidur?”
            “Uhhh bu bidan bisa aja, gue juga manusia biasa kali bu. Masih bisa galau.. gue bingung aja Res, kapan yang gue bisa lepas dari masa lajang gue?  Nah lo sih enak bu, udah tunangan tuh, cincin udah nyantol tinggal diresmiin, deal.. jadi deh Nyonya Juna.. hahahaha”
            “ahhh.. apaan bu, gue sekarang aja udah putus ama Juna. Nah lo gimana bu ama Yudist?”
            “haah? Lo gile Res?? Putus kenapa ama Juna. Gue ama yudist, game over tapi masih to be continue”
            “Yah putus Ran, ada suatu hal di antara gue and Juna seperti bom waktu, kapan aja bisa meledak, sebenernya dari awal emang nggak cocok tapi kami paksakan cocok. Dan sekarang? Boomm.. buumm.. bom itu sudah meledak.. Nah lo ama Yudist kenapa cerai? Udah 6 tahun alay?”
            “Gue lagi deket ama cowok Res”
            “hmm.. Jadi lo putus ama yudist gara-gara lo punya gebetan baru?”
            “yah kagak sesimple itu juga Res.. Namanya Bima, dia yang bikin gue survive untuk tetep senyum sampe hari ini. Yudist nggak ada di saat-saat gw terpuruk dengan kerjaan gue, dengan kesepian gue disini. Yudist juga seakan mudah banget maenin hubungan kita Res. Doi gampang banget putusin gue, dan memohon balikan lagi. Bima beda Res. Dia biasa, tapi luar biasa sabar buat ngadepin keegoisan gue. Ya lo tau sendiri Kirana itu makhluk seperti apa?!”
            “tunggu.. tunggu.. Jangan bilang ini Bima yang waktu itu lo ceritain ke gue? Kan Beda iman ama lo Ran?? Trus mau dibawa kemana hubungan lo, kalo ama Yudist pun masih nggak stabil gitu.”
            “nggak tau gue Res.. bingung”
            “Ran, gue tau lo dulu deket ama banyak cowok, bisa dibilang lo seneng PHPin orang, ketika udah cinta ama lo, lo tinggalin. Kita udah dewasa Ran, masa masih mau maen-maen gitu? Gue juga inget lo pernah PHP-in lima cowok sekaligus. Dan endingnya semua Cuma gigit jari lo tolak, dan lo tetep alay dengan Yudist pacaran ampe 6 tahun meski kagak pernah akur juga. Sebenernya lo ama bima gimana??”
            “Bima beda Res, nggak tau deh kita liat aja ntar endingnya gimana gue juga masih galau”
            “Gue malah inget Nakula sekarang Ran.. Inget kagak lo ama cinta pertama gue si Nakula yang cupu abis itu? Sekarang dia keren jadi dokter hewan. Udah bisa modis pula. Gue besok mau jalan ama Nakula”
            “Hah? Jalan? Mau kemane??”
            “iyah karaokean Ran..”
            “Jangan bilang lo putusin tali pertunangan lo ama Juna Cuma gara-gara ketemu lagi ama Nakula? Res jangan, ntar lo nyesel. Coba lo pikir-pikir dulu deh..”
            “kagak koq Ran, gw mau ungkapin perasaan gw ke Nakula besok Ran...”
            “okey.. gue kagak ikut-ikutan lagi Res. Ini hidup lo, lo yng nentuin sendiri langkah kaki lo, bukan gue. Siph deh sist, gue udah mulai ngantuk besok kerja pula. Gue tidur duluan yah Bu Bidan Agresif penyuka cowok cupu..”
            “iye bu Perfectionist specialist PHP-in orang.. wuakakak, bye. Nite sist..”
Dan obrolan dua anak manusia itu pun ditutup pada malam ini. Respati masih dengan khayalan kosongnya esok pagi dengan Nakula. Sedangkan Kirana dengan lamunan panjangnya dengan Bima yang mengisi hari- harinya. Seperti itulah masa penantian, kadang menemukan godaan, kadang menemukan jawaban, kadang menemukan pilihan. Semua itu masih menggantung bila kita hanya melangkah secara ragu. Memilah setengah, kemudian menjadi sia- sia bila kita menoleh lagi ke belakang. Mengapa mata ada di depan di wajah, bukan di belakang kepala? Megapa telinga ada di samping kanan dan kiri bukan diletakkan sejajar? Dan mengapa lidah disatukan di dalam mulut? Pertanyaan konyol yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Mata yang menatap lurus ke depan, membuat kita seharusnya fokus memikirkan masa depan, bukan tenggelam di dalam masa lalu. Telinga yang terletak di kanan dan kiri, agak seimbang memilih kabar yang kita dengar dari dua sisi yang berbeda, bukan berat sebelah, namun satu sisi yang menerima dan sisi lain berhak untuk meneruskan atau hanya melewatkannya. Dan lidah yang bersatu dengan mulut agar kita bisa merasakan hal yang kita makan lalu mengungkapnya dengan mulut apabila manis jangan dibilang pahit, apabila pahit jangan pernah untuk memaksakannya menjadi manis. Bibir dan lidah seharusnya dalam satu kesatuan. Seperti itulah mereka diciptakan Tuhan, tidak seharusnya manusia memaksakannya untuk diubah.
Dan cerita ini akan berlanjut esok hari..


To be continue.. Capek.. besok lagi yah ^_^ hee